Tambang Emas Ilegal di Manokwari Semakin Mengkhawatirkan!!! Sungai Wariori Berubah Jadi Kubangan, Publik Minta Kapolda Tindak Tegas

Daerah989 Dilihat

MANOKWARIBONGKAR PERKARA, –

Maraknya aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, kini mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Aliran Sungai Wariori yang dulunya menjadi sumber kehidupan utama warga, kini berubah total menjadi kubangan berlubang-lubang besar akibat pengerukan masif menggunakan alat berat.

Kondisi ini memicu kemarahan sekaligus kekhawatiran masyarakat, yang kemudian secara tegas meminta Kapolda Papua Barat untuk segera mengungkap jaringan pelaku hingga ke akar, serta mengamankan wilayah tersebut dari kerusakan yang semakin parah.

Berdasarkan pantauan langsung dan dokumentasi yang dihimpun, sepanjang lebih dari 15 kilometer aliran Sungai Wariori yang melintasi Distrik Masni dan Wasirawi, permukaan tanah dan dasar sungai sudah hancur total. Bebatuan asli hilang tersapu, digantikan lubang-lubang raksasa berisi air keruh kehijauan, bahkan aliran air terputus dan berubah arah akibat penimbunan liar. Bau menyengat akibat limbah bahan kimia seperti merkuri dan sianida tercium jelas, sedangkan ikan dan biota air yang dulu melimpah kini nyaris punah, membuat warga tidak bisa lagi memanfaatkan sungai ini untuk kebutuhan sehari-hari maupun pertanian.

“Sudah tidak kenal lagi ini Sungai Wariori, sekarang jadi kubangan bekas galian saja.

Kalau hujan turun, airnya meluap membawa lumpur ke sawah dan pemukiman, kita jadi sering kena banjir. Padahal dulu sungai ini tempat mandi, cuci, dan sumber air minum kita. Siapa yang berani memberi izin? Mengapa selama ini tidak ada tindakan nyata?” keluh Markus, salah satu warga masyarakat setempat, kemarin.

Warga dan sejumlah elemen pengawasan juga menduga kuat aktivitas ini tidak berjalan sendiri. Pasalnya, penggunaan puluhan unit alat berat seperti ekskavator, truk pengangkut, serta alur distribusi hasil tambang yang berjalan lancar, menunjukkan adanya jaringan terorganisir bahkan dugaan perlindungan dari oknum tertentu, baik dari lingkungan aparat maupun pihak terkait.

Tokoh masyarakat ini pun menegaskan bahwa kondisi ini sudah masuk kategori darurat lingkungan. Ia menyatakan kerusakan yang terjadi bukan hanya merugikan ekosistem, tapi juga merugikan keuangan negara hingga miliaran rupiah, serta mencederai hak hidup masyarakat adat yang telah mendiami wilayah ini turun-temurun.

“Kami mendesak secara resmi kepada Kapolda Papua Barat, untuk tidak lagi setengah hati menangani kasus ini.

Jangan hanya menangkap buruh lapangan saja, tapi ungkap siapa pemodal, siapa yang melindungi, dan bagaimana jalur peredarannya. Segera bentuk tim khusus, amankan seluruh alat berat, dan hentikan total aktivitas ini sebelum kerusakan menjadi permanen dan tidak bisa diperbaiki lagi,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Anggota DPR RI Yan Permenas Mandenas, yang sebelumnya juga meninjau langsung lokasi. Ia menyatakan, jika tidak segera ditindak tegas, kerusakan ini akan memicu bencana alam berulang seperti banjir dan longsor, serta menghilangkan sumber penghidupan ribuan keluarga selamanya.

Sementara itu, pihak Kepolisian Daerah Papua Barat hingga berita tayang belum memberikan tamggapan apapun terkait penambangan liar ini.

Masyarakat kini terus memantau perkembangan, dan menegaskan akan melaporkan ke tingkat lebih tinggi jika upaya penegakan hukum masih lambat atau tidak menyentuh aktor di balik layar. Mereka juga meminta agar setelah ditertibkan, dilakukan pemulihan lingkungan secara bertahap agar Sungai Wariori bisa kembali berfungsi seperti sediakala.

(Red)

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *