Bolaang Mongondow Timur – Kelangkaan gas LPG bersubsidi 3 kilogram di Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), masih terjadi meskipun sebelumnya pemerintah daerah bersama aparat kepolisian telah melakukan operasi pasar untuk memantau ketersediaan bahan pokok dan gas subsidi menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Faktanya, hingga Senin malam, 9 Maret 2026, masyarakat masih kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Bahkan puluhan warga terlihat saling dorong saat berebut tabung gas di salah satu agen di Desa Tutuyan.
Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Facebook @moms ndah moms ndah dengan durasi sekitar 2 menit 48 detik. Dalam video itu terlihat warga berdesakan demi mendapatkan LPG 3 kilogram yang mulai langka di wilayah tersebut.
Berdasarkan pantauan wartawan di lapangan, kelangkaan gas bersubsidi ini terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kondisi ini membuat banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Tidak hanya langka, harga gas LPG 3 kilogram juga dilaporkan melonjak tajam. Jika sebelumnya dijual sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per tabung, kini di tingkat pengecer harganya mencapai Rp45 ribu hingga Rp50 ribu.
Sejumlah warga menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengawasan terhadap distribusi gas bersubsidi masih lemah, sehingga memicu dugaan adanya permainan harga oleh oknum agen maupun pengecer.
Padahal sebelumnya, Kepolisian Resor Bolaang Mongondow Timur bersama Pemerintah Kabupaten Boltim telah melaksanakan operasi pasar gabungan di Pasar Kotabunan. Kegiatan tersebut merupakan instruksi langsung Kapolres Boltim AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan.
Kapolres Boltim melalui Kabag Ops AKP Wensy saat itu menjelaskan bahwa operasi pasar dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok serta mencegah adanya pihak yang menaikkan harga secara sepihak menjelang Lebaran.
“Atas perintah bapak Kapolres, kami turun langsung untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi dan tidak ada pihak yang menaikkan harga secara sepihak di tengah meningkatnya permintaan menjelang Lebaran,” ujar Wensy.
Operasi gabungan tersebut melibatkan sejumlah instansi pemerintah daerah, di antaranya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Ketahanan Pangan, serta Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Setda Boltim.
Kepala Disperindag Boltim, Imelda Apriyanti Mamonto, juga menyampaikan bahwa pihaknya melakukan pengecekan langsung di pangkalan untuk memastikan distribusi gas subsidi tepat sasaran dan stoknya mencukupi bagi masyarakat.
“Kami melakukan pengecekan langsung di pangkalan untuk memastikan distribusi gas subsidi tepat sasaran dan stoknya mencukupi bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Imelda.
Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kelangkaan gas LPG 3 kilogram masih terjadi dan harga di tingkat pengecer tetap tinggi. Situasi ini membuat masyarakat berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dapat mengambil langkah yang lebih tegas dalam mengawasi distribusi LPG bersubsidi.
Warga juga meminta agar pihak berwenang menindak tegas agen maupun pengecer yang terbukti menjual gas bersubsidi di atas harga yang telah ditetapkan pemerintah, agar kelangkaan dan lonjakan harga tidak terus berulang di tengah kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat menjelang Idul Fitri.
(Donal)












