Ekonomi Tumbuh 5,61%? UI: Ada Ketidaksesuaian Data Manufaktur dan Energi, Estimasi Riil 4,6-4,9%

Berita30 Dilihat

Bongkar perkara.com – JAKARTA Kamis. 14 – Mei – 2026 Di tengah optimisme pemerintah soal pertumbuhan ekonomi Q1 2026 sebesar 5,61%, akademisi Universitas Indonesia mempertanyakan validitas angka tersebut.

Sorotan datang dari LPEM FEB UI lewat laporan _Indonesia GDP Growth, First Quarter 2026: Behind the 5.61 Percent Headline_. Peneliti nilai angka pemerintah belum sepenuhnya cerminkan kondisi riil ekonomi nasional.

Guru Besar LPEM FEB UI Prof Mohamad Ikhsan dan peneliti Teuku Muhammad Riefky Hasan soroti ketidaksesuaian antara pertumbuhan manufaktur dengan data sektor energi.

Sektor manufaktur diklaim tumbuh 5,04%, tapi sektor listrik, gas, dan air justru kontraksi minus 0,99%. Bagi akademisi, ini janggal karena manufaktur sangat bergantung pasokan energi untuk produksi. Jika energi melemah, peningkatan produksi industri besar sulit terjadi secara logis.

“Data sektoral tunjukkan inkonsistensi internal yang perlu dikaji lebih dalam. Pertumbuhan manufaktur tinggi tidak selaras dengan kontraksi sektor energi,” tulis laporan itu, Selasa (12/5/2026).

Estimasi UI: Ekonomi Hanya Tumbuh 4,6-4,9%

LPEM FEB UI lakukan estimasi ulang dan hasilkan angka pertumbuhan ekonomi Q1 2026 di kisaran 4,6-4,9%, lebih rendah dari angka resmi BPS 5,61%.

Selisih hampir 1% dinilai signifikan karena bisa pengaruhi persepsi pasar, investor, hingga arah kebijakan ekonomi ke depan. LPEM nilai data statistik harus jadi fondasi keputusan yang akurat dan transparan.

Sebelumnya, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti bilang ekonomi Q1 2026 tumbuh 5,61% yoy, lebih tinggi dari Q4 2025 sebesar 5,39%. Angka itu lampaui proyeksi lembaga ekonomi yang rata-rata di 5,40%.

Pemerintah bilang pertumbuhan ditopang konsumsi rumah tangga saat Ramadan-Idulfitri, perdagangan, perhotelan, restoran, e-commerce, dan impor barang konsumsi.

Kritik LPEM FEB UI kini buka diskusi baru soal transparansi metodologi statistik nasional di tengah tekanan ekonomi global, daya beli melemah, dan ketidakpastian investasi.

Penutup

Editor,Red 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *