BREAKING NEWS
Wakil Menteri Agama Kamboja Sambut Baik Muzakarah Internasional, Soroti Peran Wali Agama dalam Membangun Persatuan dan Perdamaian Dunia
BANDA ACEH, 11 Oktober 2026 —BONGKAR’Perkara | Wakil Menteri Kementerian Kultus dan Agama Kamboja, H.E. Dr. Yob Ahskary, menyambut baik penyelenggaraan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II di Banda Aceh. Forum internasional ini dinilai menjadi ruang penting untuk memperkuat peran ulama dan tokoh agama dalam membangun persatuan, menjaga kerukunan antarumat beragama, serta mendorong perdamaian dunia.
Muzakarah yang mempertemukan ulama, akademisi, dan cendekiawan Muslim lintas negara tersebut membahas peran tasawuf dalam memperkuat nilai ihsan, penyucian jiwa, pengendalian diri, dan pembinaan akhlak dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai spiritual tersebut menjadi landasan penting untuk membangun persaudaraan, menghormati perbedaan, dan mendorong penyelesaian konflik melalui dialog serta kasih sayang.
Dalam pembahasan hari kedua, narasumber dari Kamboja, Maroko, dan Malaysia turut memberikan perspektif mengenai peran spiritualitas Islam, kerukunan sosial, dan pendidikan tasawuf dalam membangun peradaban yang damai.
H.E. Dr. Yob Ahskary: Peran Ulama dan Tokoh Agama dalam Membangun Perdamaian
H.E. Dr. Yob Ahskary, yang juga dikenal sebagai Asyary bin Aiyob, hadir membawa perspektif Kamboja mengenai pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Ia dikenal pernah menjabat sebagai State Secretary dan kemudian disebut menjabat sebagai Wakil Menteri Kementerian Kultus dan Agama Kamboja (Deputy Minister of Cults and Religions).
Pengalaman Kamboja memberikan gambaran mengenai kehidupan komunitas Muslim Cham di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Buddha. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya komunikasi terbuka, penghormatan terhadap perbedaan, dan dialog lintas agama dalam menjaga hubungan sosial.
Dalam konteks tersebut, ulama dan tokoh agama memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kasih sayang, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan akhlak mulia. Melalui pendidikan spiritual dan keteladanan, nilai-nilai agama dapat menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan antarkelompok, mengurangi prasangka, serta mencegah berkembangnya permusuhan.
Peran tokoh agama juga relevan dalam mendorong masyarakat agar mengedepankan dialog dan kepentingan bersama ketika menghadapi perbedaan. Dengan demikian, ajaran agama tidak hanya menjadi pedoman spiritual individu, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap penguatan tanggung jawab sosial dan perdamaian yang berkelanjutan.
Perspektif Kamboja tersebut memperkaya pembahasan muzakarah mengenai pentingnya kerja sama lintas agama dan negara dalam membangun kehidupan yang harmonis.
Sheikh Dr. Aziz El Kobaiti Idrissi Al-Hassani: Tasawuf sebagai Jembatan Antarperadaban
Dari Maroko, Sheikh Dr. Aziz El Kobaiti Idrissi Al-Hassani hadir sebagai Presiden International Academic Center for Sufi and Aesthetic Studies (IACSAS) di Fez dan Direktur Jenderal Fez International Sufi Conference.
Ia memiliki latar belakang akademik dalam bidang pemikiran Islam dan tasawuf, dengan pendidikan doktoral yang berkaitan dengan Sidi Mohamed Ben Abdellah University di Fez dan Loyola University di Chicago, Amerika Serikat. Kiprahnya mencakup penelitian, pengembangan kajian spiritualitas Islam, serta penyelenggaraan forum akademik internasional yang berkaitan dengan tradisi Sufi.
Dalam perspektif tasawuf, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan cinta (mahabbah) merupakan prinsip penting untuk membentuk manusia yang berakhlak, mampu mengendalikan diri, dan menghormati sesama. Perubahan kehidupan tidak cukup dilakukan melalui pembenahan lahiriah, tetapi juga membutuhkan pemurnian niat, pembinaan batin, dan perbaikan perilaku.
Nilai kasih sayang, kerendahan hati, serta penghormatan terhadap martabat manusia dinilai dapat mempererat hubungan sosial dan mengurangi permusuhan. Karena itu, tasawuf memiliki relevansi dalam menjembatani perbedaan budaya dan pandangan serta memperkuat dialog antarperadaban.
Pembahasan tersebut juga menyoroti kontribusi tradisi tasawuf Maroko dan Afrika Utara terhadap perkembangan keilmuan dan pendidikan spiritual Islam. Pengalaman Maroko dapat menjadi salah satu perspektif dalam memperkuat pertukaran gagasan antara Afrika dan Asia Tenggara mengenai pendidikan akhlak, penghormatan terhadap sesama, dan penyelesaian perbedaan secara damai.
Dato’ Haji Shushilil Azam bin Shuib: Pendidikan Tasawuf dalam Dunia Modern
Dari Malaysia, Dato’ Haji Shushilil Azam bin Shuib membahas relevansi pendidikan tasawuf dalam pengembangan pendidikan Islam kontemporer.
Ia pernah menjabat sebagai Direktur Divisi Internasionalisasi Pendidikan Tinggi pada Jabatan Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia. Ia juga pernah diperkenalkan sebagai Visiting Professor di Universitas Ubudiyah Indonesia.
Pembahasan menekankan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, integritas, kematangan spiritual, dan kepedulian sosial. Dalam hal ini, tasawuf dapat menjadi salah satu landasan untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan pembinaan akhlak.
Nilai wasathiyah atau moderasi, zuhud atau sikap tidak berlebihan terhadap kehidupan dunia tanpa meninggalkan tanggung jawab dan produktivitas, serta ukhuwah atau persaudaraan dipandang penting untuk membangun keseimbangan antara ilmu, spiritualitas, dan kehidupan sosial.
Pendidikan tasawuf juga relevan dalam menghadapi tantangan krisis identitas dan moral di kalangan generasi muda. Penguatan spiritual diharapkan membentuk pribadi yang teguh memegang nilai, mampu mengendalikan diri, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.
Integrasi ilmu dan akhlak menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan Islam modern agar kemajuan intelektual berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Kerja sama pendidikan dan pertukaran gagasan lintas negara turut berperan dalam memperkuat upaya tersebut.
Muzakarah Perkuat Komitmen Persatuan dan Perdamaian Dunia
Diskusi hari kedua melibatkan ulama, akademisi, mahasiswa, dan perwakilan organisasi Islam dari berbagai negara. Pertukaran pandangan tersebut memperkaya pembahasan mengenai peran tasawuf dalam menjawab tantangan kehidupan individu, masyarakat, hingga hubungan antarbangsa.
Berbagai perspektif menyoroti bahwa perdamaian tidak hanya membutuhkan pendekatan politik, ekonomi, dan sosial, tetapi juga penguatan moral dan spiritual. Penyucian jiwa, pembinaan akhlak, pengendalian diri, dan persaudaraan dinilai penting untuk memperkuat keharmonisan serta mendorong penyelesaian persoalan melalui dialog.
Panitia menyampaikan bahwa masukan dari pembahasan hari kedua akan dirumuskan menjadi rekomendasi bersama untuk dibacakan pada acara penutupan. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi landasan bagi penguatan pendidikan spiritual, pengembangan dialog antarperadaban, serta peningkatan kerja sama ulama dan cendekiawan Muslim lintas negara.
Melalui Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II, para peserta diharapkan dapat memperkuat penerapan nilai ihsan, akhlak mulia, dan persaudaraan dalam kehidupan nyata.
Penyelenggaraan muzakarah ini menjadi ruang pertukaran pemikiran sekaligus ikhtiar bersama untuk memperkuat peran ulama dan tokoh agama, membangun persatuan, menghormati keberagaman, serta mendorong terwujudnya perdamaian dunia.(SEKJEND SEKBER ACEH)
-Reporter/Pers Media BONGKAR Perkara Wilayah Aceh : Kaperwil -Mj Eric Karno









