Pewaris Marwah Diplomasi Aceh di Mata Dunia: Mengenang Dr. drg. H. Zaini Abdullah || BONGKAR’Perkara.com

Berita, Daerah16 Dilihat

BREAKING NEWS 

Pewaris Marwah Diplomasi Aceh di Mata Dunia: Mengenang Dr. drg. H. Zaini Abdullah

BANDA ACEH BONGKAR’Perkara.com.|| 14 Juni 2026 ||  Masyarakat Aceh kembali diselimuti duka mendalam atas berpulangnya salah satu putra terbaik bangsa Aceh, Dr. drg. H. Zaini Abdullah, atau yang akrab disapa Abu Doto. Sosok yang pernah menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2012–2017 ini bukan sekadar pemimpin daerah, melainkan saksi hidup sekaligus pelaku utama dalam berbagai fase krusial perjalanan sejarah modern Serambi Mekkah.

Perjalanan hidup Abu Doto membentang panjang dan penuh pengorbanan. Dari lebatnya hutan perjuangan di Aceh, dinginnya pengasingan politik di Swedia, hingga menjadi salah satu arsitek utama yang mengantarkan lahirnya perdamaian Aceh melalui panggung diplomasi internasional.

Menanggapi kepergian tokoh tersebut, Irwan Syahputra (Syech Wan), Sekretaris Jenderal Yayasan Cakra Donya Atjeh, menyampaikan penghormatan dan refleksi mendalam. Menurutnya, kemampuan diplomasi universal yang ditunjukkan Abu Doto bersama para tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) merupakan manifestasi nyata dari warisan sejarah dan marwah tinggi Aceh yang sejak masa lampau telah diakui dunia.

Sang Dokter di Tengah Perjuangan Gerilya

Lahir di Kabupaten Pidie, Zaini Abdullah menempuh jalur intelektual di bidang medis hingga menjadi seorang dokter gigi profesional. Namun, kecintaannya terhadap tanah kelahiran serta keprihatinannya terhadap berbagai ketidakadilan yang menimpa Aceh membuatnya memilih jalan perjuangan yang penuh risiko. Ia meninggalkan kenyamanan profesi dokter demi sebuah prinsip yang diyakininya.

Ketika Teungku Muhammad Hasan di Tiro mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 4 Desember 1976, Zaini Abdullah memantapkan diri untuk bergabung dalam barisan perjuangan.

Dengan latar belakang medis yang dimilikinya, ia memikul tanggung jawab besar sebagai dokter lapangan. Di bawah rindangnya hutan pedalaman Aceh yang serba terbatas, ia merawat para pejuang yang terluka dan memberikan pelayanan kesehatan dalam kondisi yang sangat sulit.

Dedikasi tanpa pamrih tersebut kemudian mengantarkannya menduduki posisi strategis sebagai Menteri Kesehatan dalam struktur pemerintahan GAM di perbukitan.

Pengasingan di Swedia dan Validasi Arsip Kolonial

Seiring meningkatnya eskalasi militer, sejumlah pimpinan tertinggi GAM, termasuk Hasan di Tiro dan Zaini Abdullah, terpaksa berhijrah ke luar negeri demi menyelamatkan ideologi perjuangan melalui jalur diplomasi formal.

Abu Doto kemudian menetap di Swedia dan memperoleh kewarganegaraan di negara tersebut. Di negeri Skandinavia itu, ia menjalani dua peran sekaligus: kembali berpraktik sebagai dokter untuk menyambung kehidupan, sekaligus tetap aktif menggerakkan roda organisasi politik GAM di tingkat internasional.

Masa-masa pengasingan itu menyisakan ironi yang mendalam. Kerinduan terhadap tanah kelahiran membuatnya beberapa kali nekat pulang ke Aceh. Namun karena status politik yang disandangnya, ia harus memasuki tanah kelahirannya sendiri menggunakan paspor asing dan tercatat sebagai “wisatawan” di negeri yang sedang ia perjuangkan.

Menurut Syech Wan, langkah politik luar negeri yang ditempuh Abu Doto dan Hasan di Tiro bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kelanjutan dari tradisi diplomasi internasional yang telah dimiliki Aceh sejak masa lampau.

Hal tersebut, menurutnya, dapat ditemukan dalam berbagai arsip militer Belanda abad ke-19 (Aanteekening). Dalam dokumen resmi kolonial tersebut, pihak intelijen Belanda mencatat secara rinci struktur pertahanan Aceh, mulai dari pemetaan tata ruang De Mesdigit (Masjid Raya) dan De Mesigit-tjoet (mushala atau surau), hingga analisis taktis terhadap penggunaan senjata klewang Aceh.

Catatan yang begitu detail itu menunjukkan bahwa bahkan bagi pihak kolonial sekalipun, setiap aspek kebudayaan material dan spiritual Aceh dipandang sebagai bagian dari kekuatan yang tidak bisa diremehkan.

Simbol Hubungan Internasional: Jejak Kesultanan hingga Helsinki

Kontinuitas marwah diplomasi Aceh juga terekam dalam lembaran lain arsip Belanda yang memuat sketsa berwarna panji militer Aceh.

Bendera berbentuk segitiga merah tua dengan rumbai emas tersebut menampilkan simbol-simbol historis seperti Pedang Zulfikar bermata dua, bintang segi delapan, dan bulan sabit.

Pada bagian bawah dokumen, militer Belanda menggambar Turksche Oorlogsvlag (Bendera Perang Turki) dan membubuhkan catatan penting:

“De Atjehers namen de vlaggen aan…” (Orang-orang Aceh mengadopsi bendera-bendera ini).

Arsip tersebut merujuk pada traktat tahun 1862 dan hubungan historis antara Kesultanan Aceh dengan Sultan Selim II dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Dalam catatan itu, pihak Belanda mengakui bahwa bagi rakyat Aceh, simbol tersebut memiliki nilai yang sangat kuat, baik secara historis maupun religius (historische en de godsdienstige).

Dokumen kolonial ini menjadi salah satu bukti historis bahwa Aceh sejak abad ke-16 telah menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai kekuatan dunia dan memiliki posisi penting dalam percaturan internasional pada masanya.

Fondasi marwah diplomasi inilah yang kemudian dihidupkan kembali oleh Abu Doto melalui perjuangan politik dan diplomasi dari Swedia, hingga mencapai puncaknya pada penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki di Finlandia pada 15 Agustus 2005.

Kesepakatan bersejarah tersebut berhasil mengakhiri konflik bersenjata yang berlangsung selama hampir tiga dekade dan membuka lembaran baru bagi Aceh dalam suasana damai.

Espanto del Mundo dan Kejayaan Masa Damai

Bagi Yayasan Cakra Donya Atjeh, keberhasilan diplomasi Helsinki merupakan bukti bahwa semangat bangsa maritim Aceh yang dahulu disegani dunia masih tetap hidup.

Syech Wan menjelaskan bahwa nama Cakra Donya diambil dari simbol lonceng legendaris hadiah Kekaisaran Tiongkok yang merepresentasikan kejayaan maritim Kesultanan Aceh Darussalam.

Pada masa keemasannya, armada laut Aceh dipimpin oleh tokoh-tokoh maritim tangguh, termasuk Laksamana Keumalahayati yang dikenal sebagai laksamana perempuan pertama di dunia.

Kedigdayaan armada laut Aceh di Selat Malaka dan perairan internasional begitu disegani sehingga dalam sejumlah catatan Eropa kuno, kekuatan maritim Aceh dijuluki sebagai “Espanto del Mundo” atau “Teror Dunia”.

Dalam imajinasi masyarakat modern, kemegahan kapal perang legendaris Aceh kerap disandingkan dengan kapal fiksi Black Pearl dalam film Pirates of the Caribbean sebagai simbol keberanian, ketangguhan, dan kemampuan menjelajah samudra luas.

Semangat kejayaan tersebut kemudian dibawa pulang oleh Abu Doto ke dunia politik formal pasca-perdamaian. Bersama Muzakir Manaf (Mualem), ia memenangkan Pilkada Aceh dan menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2012–2017.

Pada masa damai, fokus perjuangannya beralih pada pemulihan pascakonflik serta rekonstruksi pascatsunami.

Salah satu warisan monumental dari visi global Abu Doto yang masih berdiri megah hingga hari ini adalah revitalisasi kawasan Masjid Raya Baiturrahman. Melalui kebijakan yang diprakarsainya, masjid bersejarah tersebut dilengkapi dengan 12 payung elektrik raksasa yang mengadopsi kemegahan Masjid Nabawi di Madinah, menjadikannya salah satu destinasi wisata religi paling ikonik di Asia Tenggara.

Selamat Jalan, Abu Doto

“Perjalanan Abu Doto bersama Hasan di Tiro dari hutan, menetap di Swedia, hingga berunding di Finlandia membuktikan bahwa marwah kedaulatan Aceh tidak pernah benar-benar hilang. Mereka berhasil membuat dunia internasional memperhatikan Aceh dan menyelesaikan perang melalui meja perundingan yang terhormat,” ujar Syech Wan.

Kini, sang dokter lapangan, diplomat ulung, dan negarawan itu telah menyelesaikan tugas sejarahnya di dunia.

Ribuan masyarakat Aceh melepas kepergiannya dengan rasa kehilangan yang mendalam. Prosesi shalat jenazah dilaksanakan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh usai Shalat Ashar—di bawah naungan payung-payung elektrik yang menjadi salah satu warisan kebijakannya—sebelum jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Gampong Trubue, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie.

Kisah hidup Dr. drg. H. Zaini Abdullah kini telah terpatri dalam lembaran sejarah Aceh modern. Jejak pengabdiannya menjadi pengingat bahwa keberanian, kemampuan negosiasi, serta harga diri bangsa Aceh akan terus hidup melintasi zaman.

Selamat jalan, Abu Doto. Pengabdian, keteladanan, dan marwah perjuanganmu akan tetap hidup dalam detak jantung rakyat Aceh.

-Reporter/Perss Media BONGKAR Perkara Wilayah Sabang : MJ Eric Karno 

-Sumber/Rilis/Photo : Syech WAN Sekjend Sekber Aceh 

-Rilis/RedaksiDaerah : BONGKAR’Perkara.com

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *