Mo Nuntul yang Kian Redup di Tutuyan: Antara Tradisi dan Zaman yang Berubah

Berita, Boltim, Daerah6 Dilihat

Tradisi mo nuntul—memasang lampu di depan rumah menjelang hari besar keagamaan—perlahan mulai meredup di Desa Tutuyan, ibu kota Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Jika dahulu cahaya lampu-lampu kecil menghiasi hampir setiap sudut kampung, kini pemandangan itu kian jarang ditemukan.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Selasa malam 17 Maret 2026, khususnya di wilayah Tutuyan Bersatu, hanya segelintir rumah warga yang masih mempertahankan tradisi ini. Sebagian besar lainnya memilih tidak lagi memasang lampu tuntul, entah karena kesibukan, perubahan gaya hidup, atau mulai lunturnya kesadaran akan nilai budaya itu sendiri.

Padahal, mo nuntul bukan sekadar tradisi memperindah rumah. Ia adalah simbol kebersamaan, penyambutan, dan harapan akan datangnya cahaya dalam kehidupan. Dalam perspektif nilai-nilai keislaman, cahaya memiliki makna yang dalam.

Dalam kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW, cahaya sering dimaknai sebagai petunjuk dan kebaikan. Bahkan dalam salah satu ajaran, umat dianjurkan untuk menyebarkan terang—baik secara harfiah maupun maknawi—sebagai bentuk menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.

Di masa Rasulullah, meski belum ada tradisi seperti mo nuntul, semangat menerangi malam dengan ibadah, kebersamaan, dan kepedulian sosial sangat dijunjung tinggi. Malam-malam dihidupkan dengan cahaya lampu sederhana, namun sarat makna: mendekatkan diri kepada Tuhan dan mempererat hubungan antarsesama.

Nilai itulah yang sejatinya hidup dalam tradisi mo nuntul. Ia bukan hanya tentang lampu, tetapi tentang rasa memiliki terhadap budaya, tentang menghidupkan suasana kebersamaan, serta mengingatkan bahwa dalam gelap sekalipun, selalu ada cahaya yang bisa kita nyalakan.

Kini, ketika tradisi itu mulai ditinggalkan, yang hilang bukan hanya pemandangan indah di malam hari, tetapi juga sepotong identitas dan nilai yang diwariskan turun-temurun. Perubahan zaman memang tak bisa dihindari, namun menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan—melainkan merawat akar agar tidak tercerabut.

Tutuyan mungkin masih terang oleh lampu listrik modern, tetapi tanpa mo nuntul, ada nuansa hangat yang perlahan ikut padam.

Pertanyaannya kini, apakah kita akan membiarkan cahaya tradisi itu benar-benar hilang, atau justru kembali menyalakannya, meski hanya dari satu rumah ke rumah lainnya?

(Donal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *