Sinergitas Membangun Kuningan: Pemuda Pancasila (MPC Kuningan), SBI, dan GMOCT Bergandengan Tangan Kuningan, Jawa Barat (GMOCT) – Pembangunan daerah merupakan dambaan seluruh lapisan masyarakat. Di Kabupaten Kuningan, hal ini diwujudkan melalui sinergitas yang kuat antara Sahabat Bhayangkara Indonesia (SBI), Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila (MPC PP) Kuningan, dan Gabungan Media Online dan Cetak Ternama (GMOCT). Kerja sama ini dilandasi semangat patriotisme dan komitmen bersama untuk membangun daerah. Pada Selasa, 29 Juli 2025, pertemuan antara ketiga elemen tersebut berlangsung di kantor MPC PP Kuningan. Diskusi difokuskan pada perkembangan pembangunan daerah dan peran penting masyarakat dalam pelaksanaannya. Harnida Darius, S.H., Ketua MPC PP Kuningan, menekankan peran vital insan pers sebagai pilar kebangsaan dalam mengawasi pembangunan. Beliau mengapresiasi profesionalisme jurnalis di Kabupaten Kuningan yang telah aktif menjalankan tugas sebagai kontrol sosial. “Profesionalisme dalam menjalankan tugas kita sebagai organisasi masyarakat dan insan pers sangat penting. Ciptakan kondisi sebagai tolak ukur pelaksanaan pembangunan daerah. Hal ini dapat tercapai dengan keselarasan kesadaran dan pemahaman yang sehat, tanpa unsur yang berpotensi merugikan pihak lain,” jelas Harnida. Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada insan pers atas peran aktifnya dalam mengawasi pembangunan daerah, mengingatkan pentingnya Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 sebagai pedoman dalam menjalankan tugas jurnalistik. “Lanjutkan perjuangan demi kemajuan daerah, bangsa, dan negara,” tegasnya. Harnida menambahkan pentingnya mengambil hikmah dari pengalaman masa lalu untuk mencegah terulangnya kejadian yang merugikan. Sinergitas antar elemen daerah, menurutnya, menjadi kunci kemajuan. “Mari kita berikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat, satukan tekad kita untuk membangun Kabupaten Kuningan agar lebih baik ke depan,” pungkasnya. Dukungan dari GMOCT Agung Sulistio, Pimpinan Redaksi media online Kabarsbi dan Ketua Umum GMOCT serta Penasehat DPD Ormas MADAS DKI menambahkan, “GMOCT berkomitmen penuh mendukung sinergitas ini. Kami percaya kolaborasi antara media, organisasi masyarakat, dan pemerintah daerah sangat krusial untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan transparan di Kuningan. Peran media sebagai pengawas dan penyampai informasi kepada masyarakat sangat penting untuk memastikan akuntabilitas dan keberhasilan program pembangunan.” Senada dengan Agung, Asep NS, Sekretaris Umum GMOCT, menyatakan, “Sinergitas ini merupakan contoh nyata bagaimana elemen masyarakat dapat bersatu untuk kemajuan daerah. GMOCT siap menjadi jembatan informasi yang menghubungkan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait dalam proses pembangunan. Kami akan terus berupaya memberikan liputan yang berimbang dan objektif untuk mendukung terwujudnya Kuningan yang lebih maju dan sejahtera.” Sinergitas antara SBI, MPC PP Kuningan, dan GMOCT menunjukan komitmen nyata dalam membangun Kabupaten Kuningan. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya mewujudkan pembangunan yang partisipatif, transparan, dan berkelanjutan. Peran media massa sebagai kontrol sosial dan penyampai informasi yang akurat dan bertanggung jawab menjadi kunci keberhasilan pembangunan tersebut. #noviralnojustice #pemudapancasila Team/Red (Kabarsbi) GMOCT: Gabungan Media Online dan Cetak Ternama Editor:

Bongkar perkara.com Kuningan, Jawa Barat (GMOCT) – Pembangunan daerah merupakan dambaan seluruh

*Rilis Resmi GMOCT* Pasca Dicegat Debt Collector, Ditengah Trauma Berat, Kebingungan Dimintai Klarifikasi oleh Pihak Kepolisian Semarang (GMOCT) – Kejadian penyegatan terhadap empat mahasiswi Semarang oleh debt collector di Bandungan pada 23 Juli 2025, berbuntut panjang. Bukan hanya dugaan ketidaktegasan aparat kepolisian dalam menangani premanisme yang menjadi sorotan, namun kini muncul polemik baru terkait kunjungan anggota kepolisian ke rumah salah satu korban, Mawar (nama samaran). Mawar, yang masih trauma pasca kejadian, menceritakan pengalamannya kepada tim liputan khusus GMOCT. Pada Kamis malam, 24 Juli 2025, sekitar pukul 19.00-21.30 WIB, ia didatangi oleh seseorang yang mengaku sebagai Kanit Reskrim Polsek Bandungan, didampingi anggota Polsek Mijen. Kunjungan tersebut, menurut Mawar, bertujuan meminta klarifikasi terkait kebenaran kejadian penyegatan. Yang janggal, Mawar mengaku tidak pernah membuat laporan polisi, dan ia bingung bagaimana polisi mengetahui alamat dan nomor kontaknya, dan meminta klarifikasi dari nya serta mengarahkan dirinya untuk bertemu dengan anggota Propam Polres Semarang. “Saya bahkan tidak memberikan nomor kontak saya kepada Pak Asep dan Pak Bakara yang telah membantu kami saat kejadian. Hanya Bunga, teman saya, yang punya nomor Pak Bakara, itu pun untuk antisipasi jika ada masalah selanjutnya,” jelas Mawar melalui pesan WhatsApp. Lebih lanjut, Mawar menyatakan bahwa kedua polisi tersebut tidak memperlihatkan identitasnya. ” Alasan kami tidak melakukan pelaporan pasca kejadian, selain kami berempat mengalami trauma yang berat, kamipun tidak ingin hal ini berlanjut dikarenakan kami ingin kembali fokus ke proses belajar, dan tidak ingin membuat orang tua kami pun khawatir berkelanjutan “,pungkas Mawar. Begini selengkapnya penyampaian Mawar kepada awak media “Pada awalnya saya membuat video yg saya post ditiktok, lalu saya menandai polsek bandungan dan saya chat di DM tiktok untuk ditindak lanjutin agar tidak kembali terjadi lagi dan pihak admin polsek bandungan meminta nomor saya”. “Kemudian untuk kedatangan Pak Dwi, beliau mengetahui rumah saya dari plat nomer saya pada sebuah video yg saya unggah di tiktok walaupun di video saya sudah tutupi dgn sticker plat nomer saya, akan tetapi pihak polisi bisa membuka editan video saya di tiktok dan terlihat jelas nmr plat saya dan melacak rumah keberadaan saya. Kedatangan pun tidak ada konfirmasi sebelumnya dan datang secara tiba” karena beliau diutus atasan untuk meminta klarifikasi saya atas kejadian yang sebenarnya. “Untuk Pak Sus itu menghubungi saya pada jam 20.00 hari kamis 24 juli 2025. Dan Pak Dwi tidak tahu sebelumnya jika saya dihubungi pak sus. Saya baru bilang setelah ketemu Pak Dwi di rumah RT saya. Yg pertama datang orang tua saya yg dipanggil oleh pak RT kemudian setelah saya pulang saya dijemput ayah saya untuk menghadap ke Pak Dwi. Setelah saya bilang ke Pak Dwi jika saya dihubungi Pak Sus, beliau menelepon Pak Sus dan saya tetap disuruh bertemu dengan beliau untuk klarifikasi. Akan tetapi saya mulai ragu jika sudah di klarifikasi di sini kenapa harus ada klarifikasi kembali kepada pihak Pak Sus. Jika diperlukan klarifikasi saya memilih di dampingi oleh pihak media, tetapi sampai saat ini tidak ada konfrimasi kembali”. “Dan Pak dwi menawarkan kasus ini mau dilaporkan atau tidak, kemudiaan saya menjawab “tidak pak, akan tetapi saya meminta perlindungan serta solusi untuk tindakan DC tersebut tidak terulang kembali, serta saya ingin mengkonfirmasi mengenai polisi yang datang tersebut apakah benar polisi atau komplotan dari DC tersebut karena waktu terjadi saya bukan nya ditolong malah pihak media yang menolong saya dan polisi menghilang begitu saja” “Pak dwi mengatakan bahwa polisi tersebut benar polisi yang sedang patroli dan ia meninggalkan karena ada urusan mendadak” “Yang masih saya pertanyakan kenapa polisi tersebut tidak berusaha melerai kami dan DC akan tetapi malah meninggalkan kami, Pak dwi masih tetap menjawab sepeti jwban diatas, Apakah pihak polisi menutupi kesalahan angota nya pada hari H kejadian tersebut”. Kanit Reskrim Polsek Bandungan, IPDA Dwi, memberikan klarifikasi melalui WhatsApp. Ia mengaku mendapat perintah pimpinan untuk menanyakan kebenaran kejadian tersebut dan telah memberikan pengertian kepada Mawar, menyarankan Mawar bertemu dengan anggota Propam Polres Semarang yang disebut sebagai Pak Sus. IPDA Dwi membantah adanya intervensi dan menegaskan kedatangannya didampingi Babinsa, RT, dan orang tua Mawar. Tim liputan khusus juga menghubungi Pak Sus dari Propam Polres Semarang. Ia membenarkan upaya klarifikasi tersebut, namun menyatakan kesediaan untuk menyampaikan permintaan Mawar untuk didampingi awak media jika diperlukan ataupun ketika mawar menolak untuk memberikan klarifikasi. Ironisnya, tim liputan khusus juga menerima telepon dari seorang awak media yang mengaku sebagai saudara pelaku penyegatan, meminta berita diturunkan dan menawarkan bantuan penjembatanan. Namun, yang bersangkutan tidak hadir saat diundang ke kantor GMOCT. Perwakilan dari pelaku penyegatan justru datang dan menjelaskan bahwa mereka hanya mencocokkan data kendaraan dan membiarkan mahasiswi pulang tanpa tindakan. Pihaknya juga mengakui meminta saran kepada awak media tersebut, namun membantah adanya menyebutkan nominal. Kapolsek Bandungan telah menegaskan akan menindak tegas premanisme. Namun, polemik kunjungan polisi ke rumah Mawar dan dugaan ambisius Propam Polres Semarang dalam meminta klarifikasi tanpa laporan polisi, menimbulkan pertanyaan besar tentang profesionalitas dan etika penegak hukum. Tim liputan khusus GMOCT akan terus menelusuri kasus ini, termasuk meminta klarifikasi kepada anggota Polsek Mijen dan berkonsultasi dengan Bid Propam Polda Jateng. Kejadian ini menyoroti pentingnya perlindungan bagi korban. #noviralnojustice #polri #premanisme #polressemarang #poldajateng Team/Red GMOCT: Gabungan Media Online dan Cetak Ternama Editor:

Bongkar perkara.com Semarang (GMOCT) – Kejadian penyegatan terhadap empat mahasiswi Semarang oleh

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.