Tak Lagi Mengejar Foto Penguasa, Agung Sulistio Memilih Menyuarakan Rakyat agar Didengar Pejabat

Hukum/Kriminal30 Dilihat

Bongkar perkara.comPEMALANG, KabarSBI.com — Senin, 5 Oktober 2026 — Belasan tahun berkecimpung di dunia pers dan organisasi kemasyarakatan membuat Agung Sulistio mengubah cara memaknai kedekatan dengan kekuasaan. Jika dahulu foto bersama pejabat dan para jenderal menjadi sebuah kebanggaan, kini ia memilih menggunakan ruang yang dimilikinya untuk membawa persoalan masyarakat ke hadapan pihak yang memiliki kewenangan.

Bagi Agung, ukuran keberhasilan bukan lagi seberapa dekat seseorang dengan penguasa, melainkan seberapa berani menggunakan kedekatan dan akses yang dimiliki untuk membuka ruang agar suara masyarakat didengar dan persoalan mereka mendapat perhatian.

Pimpinan Redaksi Sahabat Bhayangkara Indonesia (KabarSBI.com), Ketua Umum GMOCT, sekaligus Ketua II DPP LPK-RI itu mengatakan pengalaman panjang telah mengubah cara pandangnya terhadap jabatan dan kekuasaan.

«“Dulu saya bangga bisa berfoto bersama pejabat dan para jenderal. Sekarang kebanggaan saya berbeda. Saya bangga ketika bisa membantu masyarakat menyuarakan keluhan mereka agar didengar dan ditindaklanjuti,” ujar Agung.»

Menurutnya, jabatan memiliki batas waktu dan kekuasaan selalu berganti. Foto pada akhirnya menjadi arsip, sementara keberanian membantu masyarakat dapat meninggalkan jejak yang lebih panjang.

«“Foto bersama pejabat hanya menjadi kenangan. Jabatan pun ada masanya. Tetapi ketika kita pernah membantu masyarakat memperjuangkan haknya, di situlah ada jejak yang lebih berarti,” katanya.»

Pers Bukan Dekorasi Kekuasaan

Bagi Agung, pers tidak semestinya berhenti pada seremoni, publikasi kegiatan pejabat, atau sekadar menunjukkan kedekatan dengan pusat kekuasaan.

Pers harus hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan dan membutuhkan ruang untuk menyampaikan suara.

«“Dekat dengan kekuasaan bukan prestasi. Yang lebih penting adalah tetap berani menyampaikan suara masyarakat ketika suara itu membutuhkan ruang untuk didengar,” tegasnya.»

Namun keberanian menyuarakan kepentingan publik, menurut Agung, tetap harus berjalan bersama tanggung jawab jurnalistik: fakta harus diverifikasi, informasi harus diuji, dan pihak yang diberitakan harus diberikan ruang untuk memberikan klarifikasi.

Kritik, kata dia, bukan permusuhan. Kritik merupakan bagian dari kontrol sosial agar kepentingan masyarakat tidak berhenti di tengah jalan.

Bukan Mengejar Foto, tetapi Meninggalkan Jejak

Belasan tahun perjalanan membuat Agung memilih ukuran kebanggaan yang berbeda.

«“Saya tidak ingin dikenang karena pernah berdiri di samping penguasa. Saya ingin dikenang karena pernah berani berdiri di sisi rakyat,” ujarnya.»

Sebab kekuasaan akan berganti, jabatan akan berakhir, dan foto akan menjadi arsip.

Tetapi suara rakyat yang diperjuangkan dapat meninggalkan jejak.

Pada akhirnya, ukuran seorang insan pers bukan semata seberapa dekat ia dengan penguasa, melainkan seberapa berani ia menggunakan ruang yang dimilikinya untuk memastikan persoalan masyarakat sampai kepada mereka yang memiliki kewenangan untuk mendengar dan menindaklanjutinya.

SAHABAT BHAYANGKARA INDONESIA
KabarSBI.com

Bukan mengejar foto bersama penguasa. Membuka ruang agar suara masyarakat didengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *