Sumut Nias — Bongkarperkara.com
Tim investigasi Awak Media kembali meninjau lokasi dan melengkapi data terkait pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMA Negeri 2 Hilisalawa’ahe, Kabupaten Nias Selatan. Peninjauan lanjutan dilakukan menyusul kunjungan awal pada Kamis (21/10/2026).
Berdasarkan temuan di lokasi, kondisi fisik gedung sekolah memperlihatkan hal-hal yang menjadi sorotan
Ruang belajar berupa bangunan sederhana dengan dinding pembatas bilah kayu yang renggang, tidak tertutup rapat
Atap belum terpasang plafon, sehingga rangka kayu dan atap gelombang terlihat langsung dari dalam ruangan
Fasilitas penunjang seperti lemari perpustakaan belum memadai, meja dan kursi masih sederhana
Bangunan berdiri kokoh, namun belum terlihat perawatan fisik yang signifikan
Kepala Sekolah, Berita Halawa, saat ditanya asal-usul gedung hanya menyampaikan.
”Gedung ini diberikan oleh Desa.”
Pernyataan ini belum menjelaskan status kepemilikan, rincian pembangunan, maupun pemeliharaan yang telah dilakukan.
Awak media mencatat rincian realisasi yang dilaporkan sebagai berikut,
Tahun Pos Anggaran Tahap I Tahap II
2023 Administrasi Rp14.649.100 Rp10.697.500
Multimedia Rp10.000.000 —
Pemeliharaan Rp6.105.000 Rp19.700.000
2024 Multimedia Rp11.400.000 —
Pemeliharaan Rp14.480.100 Rp5.700.000
Perpustakaan — Rp15.201.000
2025 Multimedia Rp22.500.000 —
Pemeliharaan Rp6.000.000 Rp12.170.000
Perpustakaan — Rp13.845.000
Total tercatat: ±Rp 157 Juta lebih dalam kurun waktu tiga tahun.
Ketika awak media meminta penjelasan rinci, bukti fisik, dan dokumen pendukung penggunaan dana, Kepala Sekolah memberikan jawaban yang dinilai belum menjawab substansi pertanyaan.
”Baik Pak, kalau rinciannya ada dalam Laporan dan SPJ penggunaan dana setiap tahun sudah kami serahkan di Kantor Cabdis.”
Kemudian Kepala Sekolah menambahkan dalam tulisan berbahasa Nias.
”Maaf, bendahara sedang berobat ke Medan dan tidak ada di tempat. Laporan-laporan ada bersamanya. Mohon izin untuk tidak bisa menunjukkannya saat ini, semoga Bapak mengerti.”
Salah satu hal yang juga menjadi sorotan adalah data jumlah siswa. Dalam laporan tertulis tercantum 60 siswa. Namun berdasarkan hasil investigasi dan penghitungan langsung awak media di lokasi pada Kamis (22/10/2026), jumlah siswa yang terlihat berada di sekolah diperkirakan tidak lebih dari 40 orang. Angka ini pun diakui oleh sumber di lingkungan sekolah yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Perbedaan jumlah siswa ini penting, karena besaran alokasi Dana BOS didasarkan pada jumlah peserta didik. Jika data tidak akurat, maka berpotensi terjadi ketidakcocokan antara alokasi dana yang diterima dengan kondisi nyata di lapangan.
Secara keseluruhan, awak media menilai penjelasan yang diberikan belum sinkron dengan pertanyaan yang diajukan.
”Belum ada penjelasan rinci per pos anggaran dan bukti fisiknya, Kenaikan pemeliharaan dari Rp6,1 juta menjadi Rp19,7 juta belum dijelaskan, Alat multimedia dan pengembangan perpustakaan belum dapat ditunjukkan secara fisik, Jumlah siswa tercatat 60 orang, namun temuan lapangan menunjukkan angka jauh lebih sedikit
Gabungan Media tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi Kepala Sekolah, Dinas Pendidikan, maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan penjelasan, data pembanding, dan bukti dokumen guna kebenaran yang utuh. Berita ini bukan putusan akhir, kebenaran adalah tujuan utama kami.
Liputan :F Buulolo






