BOLTIM – Pengelolaan karcis dalam Turnamen Bupati Cup Bolaang Mongondow Timur (Boltim) menjadi sorotan. Perhatian tersebut muncul setelah diketahui karcis yang digunakan dalam turnamen disebut tidak memiliki nomor urut atau nomor seri, sementara sisa karcis yang tidak terjual dikembalikan ke sekretariat dan kemudian dibakar.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana panitia memastikan kesesuaian antara jumlah karcis yang dicetak, jumlah yang terjual, jumlah yang tersisa, serta uang hasil penjualan tiket.
Persoalan ini dikonfirmasi wartawan kepada Sekretaris Panitia Turnamen Bupati Cup di lokasi kegiatan pada Rabu malam, 9 September 2026.
Dalam keterangannya, Sekretaris Panitia menjelaskan bahwa pengawasan penjualan karcis dilakukan melalui loket. Ia mengaku menerima laporan mengenai jumlah karcis yang dicetak, jumlah yang terjual, serta karcis yang tidak terjual.
Menurutnya, sisa karcis yang tidak terjual dikembalikan ke sekretariat sebelum kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar.
“Tidak, jadi saya hanya mengontrol di loket, jadi saya terima laporan dari sekretariat berapa jumlah karcis yang dicetak, berapa yang laku terjual, dan berapa yang tidak terjual. Juga saya melihat ada sisa karcis yang diikat, kemudian dari loket diserahkan kembali ke sekretariat, kemudian malamnya itu dibakar. Itu saja, jadi ya kita saling percaya saja, karena saya juga ada orang di loket yang pantau,” ungkap Sekretaris Panitia.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengawasan penjualan karcis melibatkan laporan dari sekretariat dan petugas di loket. Namun, belum dijelaskan secara terbuka kepada publik berapa jumlah keseluruhan karcis yang dicetak sejak turnamen dimulai, berapa yang telah terjual, serta berapa total uang yang telah terkumpul.
Dana Turnamen Disebut untuk Pembangunan Lapangan Desa
Selain menjelaskan mekanisme karcis, Sekretaris Panitia juga menerangkan tujuan penyelenggaraan Turnamen Bupati Cup serta rencana penggunaan dana yang diperoleh.
Menurutnya, kegiatan tersebut sejak awal dimaksudkan sebagai sarana mempererat kembali hubungan masyarakat setelah pelaksanaan Pilkada.
“Tujuan event ini seperti yang disampaikan Bupati adalah untuk menyatukan kembali masyarakat usai Pilkada kemarin. Kemudian dananya nanti akan dikelola untuk pembangunan lapangan milik desa yang ditukar guling dengan pemerintah daerah,” jelasnya.
Pernyataan tersebut membuat keterbukaan mengenai pemasukan dan pengeluaran turnamen menjadi penting, terutama karena dana hasil kegiatan disebut akan diarahkan untuk kepentingan pembangunan fasilitas olahraga.
Berbeda dengan Mekanisme Karcis di Desa Nuangan
Mekanisme pengelolaan karcis tersebut kemudian dibandingkan dengan sistem yang pernah diterapkan pada turnamen di Desa Nuangan.
Dalam turnamen tersebut, karcis disebut menggunakan bagian potongan atau duplikat yang tetap disimpan setelah tiket terjual. Potongan tersebut dapat menjadi bukti fisik untuk mencocokkan jumlah tiket yang terjual dengan uang yang diterima panitia.
Dengan mekanisme semacam itu, terdapat dokumen atau bukti fisik yang dapat digunakan sebagai pembanding ketika dilakukan penghitungan pendapatan.
Sementara dalam Turnamen Bupati Cup Boltim, berdasarkan keterangan Sekretaris Panitia, sisa karcis yang tidak terjual dikembalikan ke sekretariat dan kemudian dibakar.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme pencatatan dan verifikasi setelah karcis dimusnahkan. Apalagi, karcis yang beredar disebut tidak memiliki nomor seri yang dapat digunakan untuk mengetahui urutan atau jumlah tiket yang dicetak.
Panitia Perlu Buka Data Pemasukan
Persoalan yang menjadi perhatian bukan semata-mata mengenai ada atau tidaknya nomor seri pada karcis. Hal yang lebih penting adalah bagaimana panitia dapat memastikan bahwa seluruh proses penjualan tercatat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jika panitia memiliki pencatatan internal mengenai jumlah karcis yang dicetak, terjual, tersisa, serta jumlah uang yang diterima, data tersebut dapat menjadi dasar untuk menjelaskan kepada publik mengenai pengelolaan dana turnamen.
Terlebih, Sekretaris Panitia sendiri menyebut bahwa pengawasan dilakukan berdasarkan laporan dan prinsip saling percaya.
Karena itu, transparansi mengenai jumlah karcis dan penerimaan dana menjadi penting untuk menjawab pertanyaan publik.
Berapa jumlah karcis yang sebenarnya dicetak?
Berapa yang telah terjual?
Berapa harga setiap karcis?
Berapa total uang yang telah terkumpul hingga saat ini?
Dan bagaimana seluruh pemasukan tersebut dicatat serta akan digunakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting untuk dijawab oleh panitia agar pengelolaan Turnamen Bupati Cup Boltim dapat diketahui secara terbuka dan tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
(Red)




