Rahasia di Balik Lonjakan Produksi Migas PHSS di Kaltim, Satu Sumur Tembus 500 BOPD

Nasional10 Dilihat

Bongkar perkara.com –  jakarta.

Jumat. 14 / 08 / 2026

Menjaga produksi migas dari lapangan yang telah memasuki fase mature menjadi tantangan tersendiri bagi industri hulu energi. Ketika produktivitas reservoir mulai mengalami penurunan, teknologi dan inovasi menjadi instrumen penting untuk mempertahankan produksi sekaligus mengoptimalkan cadangan yang masih tersedia.

Kondisi tersebut mendorong PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) menerapkan teknologi hydraulic fracturing pada sejumlah sumur di Lapangan Mutiara dan Pamaguan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Program yang dimulai sejak 2023 hingga 2026 ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sumur dan menahan laju penurunan produksi migas.

Selama periode tersebut, hydraulic fracturing telah diterapkan pada 16 sumur. Setiap pekerjaan dirancang berdasarkan kajian teknis yang mempertimbangkan karakteristik reservoir dan tantangan operasional masing-masing sumur.
Pendekatan tersebut menghasilkan peningkatan produktivitas yang cukup signifikan. Setelah stimulasi, tambahan produksi minyak pada sumur tertentu dapat mencapai 100 hingga 500 barel minyak per hari (BOPD).

Sementara tambahan produksi gas berada pada kisaran 0,1 hingga 0,4 MMSCFD, bergantung pada karakteristik reservoir.

Tidak hanya berdampak terhadap produksi jangka pendek, program tersebut juga diproyeksikan memberikan tambahan Estimated Ultimate Recovery (EUR) hingga sekitar 1,3 juta barel minyak dan 300.000 kaki kubik gas.

Salah satu hasil terbaik tercatat pada sumur PAM-66 di Lapangan Pamaguan. Setelah hydraulic fracturing dilakukan, sumur tersebut mampu mencatat tambahan laju produksi minyak awal hingga 500 BOPD.

Sejumlah sumur lainnya juga menunjukkan peningkatan produksi setelah mendapatkan stimulasi yang disesuaikan dengan kondisi reservoir.

General Manager Zona 9, Dadang Soewargono, mengatakan penerapan teknologi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk menghadapi tantangan produksi pada lapangan migas yang telah beroperasi dalam waktu panjang.

Menurutnya, inovasi dan teknologi berperan penting dalam meningkatkan recovery rate sekaligus mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan mature di Kalimantan.

“Kami percaya bahwa penerapan inovasi dan teknologi memainkan peranan penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas sejalan dengan visi dan misi Perusahaan, serta komitmen PT Pertamina Hulu Energi dan PT Pertamina (Persero) untuk mendukung ketersediaan dan ketahanan energi nasional,” ujar Dadang.

Hydraulic fracturing merupakan metode stimulasi sumur dengan memompa cairan bertekanan tinggi untuk membentuk rekahan pada batuan reservoir.

Rekahan tersebut menciptakan jalur aliran sehingga minyak dan gas yang sebelumnya sulit mengalir dapat diproduksikan secara lebih optimal.

Namun, keberhasilan metode tersebut sangat bergantung pada karakteristik reservoir. Karena itu, PHSS melakukan kajian teknis sebelum setiap pekerjaan agar potensi risiko teknikal maupun operasional dapat dimitigasi.

Dadang menegaskan penerapan hydraulic fracturing yang disesuaikan dengan kondisi reservoir telah membantu meningkatkan produktivitas sejumlah sumur sekaligus memperkuat keberlanjutan produksi.
Bagi PHSS, optimalisasi sumur eksisting tidak sekadar mengejar tambahan produksi dalam jangka pendek. Langkah tersebut juga menjadi strategi untuk memperpanjang masa produktif lapangan dan memaksimalkan nilai aset migas yang masih tersedia.

Seluruh pekerjaan dilaksanakan dengan mengedepankan aspek keselamatan. Ke depan, PHSS akan terus mengidentifikasi sumur dan reservoir potensial untuk mendapatkan program optimasi lanjutan sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi berkelanjutan.

PHSS merupakan anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di Zona 9 yang mengelola operasi hulu migas di Wilayah Kerja Sanga Sanga, Kalimantan Timur. Sebagai KKKS pemerintah melalui SKK Migas, PHSS bersama afiliasi PHI terus mengembangkan inovasi dan teknologi untuk menghasilkan energi yang aman, efisien, andal, patuh, dan ramah lingkungan.

Optimalisasi lapangan mature melalui teknologi hydraulic fracturing pada akhirnya bukan hanya soal meningkatkan angka produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan pasokan migas dari Kalimantan Timur untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Penutup.

Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *