BREAKING NEWS
Silaturahmi di Gampong Keuneukai, Menggali Potensi Wisata, Perikanan, Perkebunan dan Jejak Sejarah demi Masa Depan Ekonomi Masyarakat
SABANG | BONGKAR’Perkara.com | 24 Juli 2026 – Di balik tenangnya debur ombak dan semilir angin Pantai Keuneukai, tersimpan potensi besar yang siap menjadi kekuatan baru bagi pembangunan Kota Sabang. Keindahan alam pesisir, kehidupan nelayan yang masih lestari, kekayaan perkebunan rakyat, hingga jejak sejarah masa lalu menjadi modal berharga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.
Nuansa itulah yang mewarnai silaturahmi Kaperwil Aceh Wilayah Sabang BONGKAR ‘Perkara.com bersama Keuchik Gampong Keuneukai dan masyarakat di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Nelayan Gampong Keuneukai, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang.
Pertemuan yang berlangsung penuh keakraban di sebuah warung kopi di tepi pantai itu tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi forum dialog untuk menggali berbagai potensi unggulan gampong. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari pengembangan sektor pariwisata, perikanan, perkebunan, pendidikan, budaya, penguatan BUMG, Koperasi Merah Putih, hingga pembangunan sumber daya manusia yang berakhlak, beretika, dan berdaya saing.
Sebelum berdiskusi, tim media terlebih dahulu meninjau langsung kawasan pesisir Keuneukai. Hamparan pasir putih yang bersih, rindangnya pepohonan, udara laut yang segar, serta aktivitas nelayan di TPI menghadirkan panorama yang memikat. Potensi wisata alam yang dimiliki kawasan ini dinilai sangat layak dikembangkan sebagai destinasi unggulan baru di Kota Sabang.
Dalam kesempatan tersebut, Mahyudin menjelaskan bahwa Gampong Keuneukai dihuni lebih dari seribu jiwa dengan mayoritas masyarakat menggantungkan kehidupan pada sektor perikanan, perkebunan, dan usaha ekonomi masyarakat.
Selain dikenal sebagai kampung nelayan, masyarakat juga mengelola perkebunan cengkeh, kelapa, pinang serta berbagai tanaman produktif lainnya yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi penopang utama ekonomi keluarga.
Di sektor kelautan, aktivitas nelayan menjadi denyut kehidupan masyarakat. Setiap sore, TPI Keuneukai dipenuhi nelayan yang kembali dari laut membawa hasil tangkapan ikan segar. Menjelang Magrib, kawasan ini ramai didatangi masyarakat dari berbagai gampong di Kota Sabang untuk membeli ikan langsung dari nelayan dengan harga yang terjangkau.
Menariknya, aktivitas ekonomi di kawasan tersebut tetap berpijak pada nilai-nilai religius. Ketika azan Magrib berkumandang, seluruh transaksi jual beli dihentikan sementara. Para nelayan, pedagang, dan pembeli bersama-sama menunaikan salat berjamaah sebelum kembali melanjutkan aktivitas.
Keuchik juga menjelaskan bahwa kawasan TPI Nelayan Keuneukai tidak hanya memiliki potensi ekonomi kelautan, tetapi juga menyimpan kekayaan wisata dan sejarah. Di sekitar kawasan terdapat Pantai Pasir Putih, taman pantai yang asri, serta Benteng Jepang, peninggalan sejarah yang menjadi saksi perjalanan masa lalu dan memiliki nilai edukasi bagi generasi muda.
Perjalanan silaturahmi kemudian dilanjutkan menuju kolam air panas alami yang berada tidak jauh dari kawasan TPI. Airnya yang jernih dan alami hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat untuk mandi dan berendam. Keberadaan sumber air panas tersebut menjadi salah satu potensi wisata alam yang dinilai masih sangat terbuka untuk dikembangkan.
Di kawasan TPI juga terdapat sebuah kapal bantuan pemerintah yang kini sudah tidak lagi beroperasi. Berdasarkan penjelasan Keuchik, kapal tersebut merupakan bantuan pada masa Menteri Kelautan dan Perikanan RI dijabat Susi Pudjiastuti. Ke depan, masyarakat berharap aset tersebut dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi nelayan apabila memungkinkan.
Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah sistem penyediaan air bersih mandiri milik Gampong Keuneukai. Berbeda dengan daerah lain yang bergantung pada PDAM, masyarakat Keuneukai memanfaatkan sumber air yang dikelola pemerintah gampong melalui mesin pompa dan jaringan distribusi sendiri.
Menurut Keuchik, setiap kepala keluarga hanya dikenakan iuran sekitar Rp10.000 per bulan untuk biaya operasional dan pemeliharaan. Program ini menjadi bukti nyata semangat gotong royong masyarakat dalam menghadirkan pelayanan dasar yang murah, mandiri, dan berkelanjutan.
Dalam dialog tersebut turut dibahas langkah-langkah strategis penguatan BUMG, pengembangan Koperasi Merah Putih, peningkatan mutu pendidikan, pelestarian adat istiadat Aceh, pemberdayaan generasi muda, hingga pembinaan akhlak masyarakat sebagai fondasi utama pembangunan.
Keuchik mengungkapkan bahwa selama ini pemerintah gampong terus aktif “menjemput bola” dengan mengajukan berbagai usulan pembangunan kepada Pemerintah Kota Sabang, Pemerintah Aceh, maupun pemerintah pusat, terutama terkait pengembangan kawasan wisata Keuneukai.
“Kami tidak hanya ingin membangun gampong untuk hari ini, tetapi juga mempersiapkan masa depan masyarakat. Potensi wisata, perikanan, perkebunan, sejarah, dan budaya yang kami miliki sangat besar. Pemerintah gampong siap bekerja keras, namun tentu membutuhkan dukungan Pemerintah Kota Sabang, Pemerintah Aceh hingga Pemerintah Pusat agar seluruh potensi ini benar-benar dapat diwujudkan demi kesejahteraan masyarakat,” ujar Keuchik.
Dari hasil peninjauan lapangan, BONGKAR ‘Perkara.com menilai Gampong Keuneukai memiliki seluruh unsur untuk berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Kota Sabang. Keindahan pantai, kehidupan nelayan yang autentik, kolam air panas alami, benteng bersejarah, perkebunan rakyat, budaya gotong royong, hingga inovasi pengelolaan air bersih merupakan kekuatan yang jarang dimiliki dalam satu kawasan.
Silaturahmi ini menjadi bukti bahwa media tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi jembatan aspirasi masyarakat sekaligus mitra pembangunan daerah. Potensi-potensi lokal yang selama ini belum banyak dikenal diharapkan semakin terbuka kepada publik melalui pemberitaan yang objektif, edukatif, dan membangun.
Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media, Gampong Keuneukai diyakini mampu tumbuh sebagai kawasan wisata pesisir, sejarah, perikanan, perkebunan, dan ekonomi kerakyatan yang menjadi kebanggaan Kota Sabang, sekaligus memperkuat posisinya sebagai gerbang wisata di ujung paling barat Indonesia.
Di penghujung pertemuan, Keuchik mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun Keuneukai dengan semangat kolaborasi. Sebab pembangunan sejati bukan hanya menghadirkan infrastruktur, melainkan juga menjaga kelestarian alam, memperkuat ekonomi rakyat, melestarikan sejarah dan budaya, serta mewariskan masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus.
Reporter/Pers :
MJ Eric Karno
Kaperwil Aceh Wilayah Sabang – BONGKAR ‘Perkara.com










